Ketika Senyum Itu Hilang..
Aku memang sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali melewati tempat
yang sama ini. Padahal semenjak 1 tahun terakhir aku bersekolah, arah kelasku
tidak pernah sejalan dengan sudut itu.
Hanya ada satu alasan kenapa aku selalu
ingin melewati sudut ini. Seorang laki-laki berambut ikal, tubuhnya kurus
tinggi, kulitnya kuning. Saat itu ia adalah anak pindahan karena dia mendapat
beasiswa dari pemerintah.
Entah sejak kapan aku ingin selalu melihat
wajahnya sebelum memulai kegiatan belajar. Aku juga sudah lupa kapan pertama
kalinya aku menatap laki-laki itu dengan
tatapan yang berbeda.
Hatiku sendiri ingin sekali mengajaknya
berkenalan. Tapi lidah ini rasa kelu, tidak bisa bicara sepatah kata pun di
depannya. Alhasil aku hanya sekedar memberi senyuman, tanpa tahu apakah dia
memperhatikan atau tidak.
Laki-laki berambut ikal itu memang
selalu ada di sudut kelas itu. Satu hal yang sangat membuatku gugup adalah
ketika aku melewati sudut tersebut, ia selalu tersenyum. Entah senyum untuk
siapa, walau kulihat matanya mengarah padaku.
Apabila ada yang tahu tentang rahasiaku ini, pastilah
ia akan heran dengan sikapku. Selama setahun terakhir secara tidak langsung
saling pandang, tapi aku hanya tahu kelasnya saja.
Sangat aneh apa yang hatiku rasakan
saat ini. Kenal saja belum, tapi aku sudah merasa sangat dekat dengan dirinya.
Rambutnya yang ikal dan tidak rapi.
***
Selasa pagi ini mendung dan aku
kesiangan. Aku kesal, karena aku jadi lupa membawa novel yang belum selesai
kubaca. Bel masuk tinggal dua menit lagi dan untungnya aku sudah berada di
dalam sekolah. Hampir saja aku telat.
Tanpa basa-basi lagi, aku segera
berlari ke arah kelasku karena guru Fisika, Pak Wawan sudah terlihat berjalan
dari kantor guru.
Sesampainya di kelas, aku mengatur
napasku yang agak fluktuatif saking buru-burunya. Bukan hanya itu, ada sesuatu
yang terasa sakit juga. Yaa.. ketika aku melihat laki-laki itu berjalan bersama
seorang gadis berjilbab.
“Bella!”
Aku
menoleh ke arah suara yang memanggilku dan menghampirinya, merubah wajah
sakitku dan melupakannya cepat-cepat.
“Udah ngerjain latihan soal yang
kemarin Pak Wawan kasih?”tanyanya. Aku menepuk dahiku karena aku baru ingat
akan tugas itu. Jawabanku hanya gelengan pasrah. Pagi hari yang tidak indah
untukku, terutama karena pagi ini aku telah melihat wajah orang yang aku sukai
bersama dengan orang lain.
***
“Be, kamu mau kemana?”
“Kamu duluan aja ke kantin, aku ada urusan,” jawab ku tanpa menoleh dan terus
berjalan. Dewi hanya bisa mengangkat bahu dan berjalan ke arah kantin.
Aku benar-benar heran. Pagi ini
laki-laki itu tidak muncul di tempat biasa. Apa yang terjadi pada dirinya ? Aku
seperti kehilangan semangat saat kejadian ini terjadi.
Sampai di lantai dua, dari
kejauhan aku dapat melihat sosok laki-laki yang sejak tadi pagi aku tunggu. Ia
sudah anggun duduk di bangku sudut itu, membuat aku agak
kikuk untuk menatap matanya.
Aku melewati sudut itu dengan
pandangan yang mencuri-curi ke arah laki-laki itu. Sedangakan dia untuk
kesekian kalinya hanya menatap aku. Setelah aku melewati sudut itu dan
menghilang, laki-laki itu langsung berlari dan tersenyum senang.
Aku sangat bahagia karena siang
itu aku telah melihat orang yang aku sukai. Karena sejak tadi pagi, aku resah sendiri selama pelajaran berlangsung.
“Untung Vanny bawa majalah, bisa
kupinjam deh. Buat ngilangin rasa resah ini,” gumamku senang.
Setelah melamun beberapa
saat, aku memutuskan untuk kembali ke kelas.
***
Siapa namanya ? Entah kenapa selama ini amu tidak pernah
berani untuk bertanya kepada siapapun, siapa nama laki-laki itu. Orang yang
selalu membuatku kepikiran terus dan selalu ingin bertemu juga. Walaupun
pertemuan aku dengan dia selama ini agak lain dan tidak biasa.
Aku ingat saat pertama kali bertemunya di
kantin sekolah. Saat itu aku ingin mengembalikan buku ke perpustakaan. Dia
memberikan senyuman padaku, membuat hatiku jadi deg-degan.
Saat itu, tepat saat itulah aku penasaran ingin
melihatnya lagi. Kemudian ingin melihatnya lagi, lagi, lagi, sampai sekarang
pun masih ingin lagi.
Kapan aku bisa mengenalnya,
bisa berteman dengannya, dan bisa selalu melihat wajahnya dengan bebas tanpa
sembunyi-sembunyi seperti ini ? Apakah aku jatuh cinta ? Jatuh cinta kepada
seseorang yang hanya ingin aku lihat? Entahlah.
Suara ponselku berdering
dan menyadarkanku dari lamunan indah di heningnya malam itu.
***
Saat pulang sekolah adalah
saat yang paling aku suka. Karena saat inilah laki-laki itu selalu memberi
senyum manis padaku.
“Trus kamu maunya gimana? Bentar lagi kan UN,
masa iya kamu masih juga mau main-main?”
“Siapa bilang aku
main-main?”
Aku tak sengaja
mendengar percakapan beberapa anak yang berpapasan denganku. UN ? Oh, ya. Dia
kelas 12 dan sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan. Dan sampai sekarang
aku masih belum berteman dengannya?
Aku berusaha untuk bisa
mengenal bahkan berteman dengannya. Aku mencari tahu banyak hal tentang dia.
Lewat buku tahunan sekolah, lewat teman sekelasnya bahkan lewat jejaring
sosial, facebook. Namun hasilnya nihil.
Saat jam istirahat, aku
berpapasan dengan laki-laki itu. Dan ternyata mata indah itu tertuju padaku. Lagi
lagi dia memberikan senyuman padaku. Kami saling pandang tanpa bicara. Dia
berlalu tanpa mengerti siapa aku.
“Saka!” Aku tak sengaja mendengar ada seorang wanita
bejilbab memanggil laki-laki itu. Dan ternyata nama laki-laki itu Saka, lebih
tepatnya Ajisaka Wardana.
Aku bahagia, setidaknya aku sudah tahu siapa
nama dia.
11 Januari 2011..
Hari ini tepat 100 tahun berdirinya
SMA KARTINI. Sekolah mengadakan banyak event dihari ini, diantaranya festival music, festival dance, dll. Suasana
sekolah pun seketika menjadi rame, hiruk pikuk para siswa menyiapkan
berlangsungnya acara ini. Aku berniat
ingin mengikuti festival music bersama teman satu band ku. Aku bersama Lita,
Bagas, Rani, Fikri segera beranjak menuju ruang pendafataran. Disana aku liat
sosok laki-laki yang tak asing lagi bagiku. Ajisaka! Ternyata dia menjabat
sebagai panitia festival music. Dengan hati yang tidak karuan aku memberanikan
diri untuk menyapa nya.
“Hmm..
Permisi, aku mau ndaftar..”
Tak
kusangaka dia menatap tajam mataku dan tersenyum padaku. “Ini formulirnya,
silahkan diisi. Kalau ada yang kurang paham bisa hubungi aku. Ini nomer ponselku.”
Kali pertamanya aku bisa menatap Saka dengan jarak yang dekat, bahkan mendengar
suaranya.
Malam
ini, 11 Januari 2011..
Aku melamunkan sesuatu di depan layar netbook. Hanya aku
diruangan ini. Entah apa yang aku lamunkan. Seperti ada dokumenter yang bermain
tidak beraturan tanpa suara yang semenjak tadi melintas di pikiranku. Yups! Aku
baru ingat kalau tadi pagi Saka memberi nomer ponselnya padaku. Aku langsung
terbangun dari lamunanku.
Aku
memberanikan diri untuk menyapa dirinya di heningnya malam ini. Tak kusangka
dia balas sapaan ku lewat sms. Thanks God..
***
24
Februari 2011..
Aku tak menyangka semua akan
seperti ini. Aku dan Saka pun lebih akrab. Inilah yang aku inginkan, tapi
apakah hanya sebatas teman ? Aku ingin lebih dari sekedar teman.
Aku
merasa jika Saka pun juga menyukai ku,
namun aku pikir mungkin dia ragu untuk menungkapkannya.
Aku tidak habis pikir. Hari ini
Saka sama sekali tidak kelihatan. Capek menunggu, saat bel istirahat,.aku
langsung mengambil tindakan. Aku memberanikan diri untuk bertanya pada siswa
kelas 12. Satu persatu kucoba tanyai namun tak ada yang tahu diman keberadaan
Saka saat ini. Kenapa dia menghilang? Kenapa dia seperti misteri didalam
hidupku? Tak lama kemudian ponselku berdering. Ternyata ada sms dari Saka,
segera kubaca sms itu dengan napasku yang fluktuatif.
Fr:Ajisaka
24feb’12. 10.45am
Maaf telah membuatmu resah, maaf
telah membuatmu marah, maaf telah membuatmu gelisah. Nanti ku akan datang lagi
padamu.
Apa
maksud kata-kata itu? Apa dia hanya mempermainkan ku ? Seketika air mata itu
menetes di pipiku. Ku pandangi sudut demi sudut, namun tak ada sosok laki-laki
yang aku tunggu. Kemana dia ??
***
30
Februari 2011..
Setelah beberapa hari tidak
menampakkan dirinya, Saka akhirnya datang menghampiri aku. Dia tak memberikan
alasan sepatah kata pun, mengapa saat itu ia tiba-tiba meghilang.
“Be
nanti malam ada acara nggak?” sapa Saka
“Enggak.
Nanti malam aku free!!” jawabku dengan mata yang berbinar
“Nanti
malam aku tunggu di taman kota jam7. Jangan lupa!.” Saka bergegas
meninggalkanku, tanpa tahu bagaimana jawabanku.
Ini seperti mimpi untukku. Tak
pernah kusangka, orang yang selama ini aku tunggu ternyata dia menghampiriku.
Mungkinkah ini mimpi untukku?
“Tuhan..
Jika memang ini mimpi, segera bangunkan aku dari mimpi indah ini. Namun jika
bukan mimpi, abadikan kisah ini Tuhan.” Gumamku dalam hati.
Tepat pukul 7 malam aku datang
ditaman kota. Namun tak ada sosok berambut ikal ditaman ini. Mataku memandang
ke segala arah, namun tak ada sosok Saka di pandanganku. Setelah beberapa menit
aku menunggu, akhirnya ia datang dengan napas yang fluktuatif.
“Maaf
Be aku telat. Tadi ada masalah dikit.” tegur Saka.
“Oh
iya, nggak apa-apa. Baru 5menit kok aku nunggu.” Jawabku.
Kami
segera meninggalkan taman kota dan bergegas menuju tempat yang kami pilih. Yups
, Sekaten di Alun-alun kota tercinta, Surakarta. Saka menggenggam erat jemariku. Berjalan dari
satu tempat ke tempat lain. Melihat orang-orang hiruk pikuk menjajakan barang
dagangan nya. Hujan pun mengguyur seakan ikut meramaikan suasana malam ini.
Saka memayungiku dengan jaketnya. Dia tetap menggenggam erat tanganku. Dan saat itu dia menatap tajam mataku dan
berkata “Aku mencintaimu, semenjak aku pindah ke SMA KARTINI”
Betapa
bahagianya aku saat mendengar kata-kata itu. Ternyata cintaku tak bertepuk
sebelah tangan.
“Be
bentar ya, aku mau cari minum dulu buat kamu.”
“Hmm..
iya. Jangan lama-lama ya. Aku takut sendiri.”
Aku resah saat Saka tak kunjung datang.
Sudah 3jam aku menunggu, namun dia tak kunjung datang menghampiriku. Jam
sudah menunjukkan pukul 22.30, aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu
dengan hati yang sangat terpukul. Kenapa dia pupuskan harapanku saat aku
benar-benar merasa bahagia berada di sampingnya? Aku berjalan menyusuri sudut
kota, tak sengaja aku melihat Bram. Dia menghampiriku dan mengantarkan aku pulang.
Terimakasih Bram..
***
Pagi harinya aku mencari Saka,
namun lagi lagi dia menghilang. Tak ada kabar sama sekali. Hmm.. Mungkin benar,
aku hanya dipermainkan dia, aku terlalu banyak berharap pada dirinya.
Aku
berusaha menghubungi Saka, namun tak ada balasan sama sekali. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali sabar.
Aku yakin dia pasti akan datang lagi, namun entah kapan.
***
16
April 2011..
Sudah 1bulan Saka tak ada kabar.
Dia sudah tidak pernah terlihat disudut koridor itu. Aku telah kehilangan
senyumannya. Kenapa dia harus menghilang saat aku merasakan indahnya
kebahagiaan itu.
Hari
ini, ya.. hari ini kelas 12 melaksanakan UN. Aku mengirim pesan singkat untuk
Saka
To: Saka
16apr’11. 6 p.m
Good luck. G B U
Namun
dia tak membalas pesan ku itu.
***
10Mei
2011..
Hari ini adalah hari yang
ditunggu-tunggu siswa kelas 12. Tepat tanggal 10Mei 2011, pengumuman
kelulusan. Mataku memandang ke segala
arah dan hanya tertuju pada seseorang, Saka! Aku memandanginya saat dia berdiri
membaca papan pengumuman. Dia melihat aku dan langsung menghampiriku. “Maaf nggak pernah ada kabar, bahkan sempat
menghilang. Terimaksih untuk semuanya.. Aku lulus dengan nilai A.”dia berkata
sambil memelukku. “Tuhan jika waktu
dapat di hentikan, aku ingin saat ini
waktu Engkau hentikan. Aku ingin lebih lama lagi bersamanya.” Gumamku. Aku
hanya bisa diam, tanpa mampu berkata sepatah kata pun. Aku mencintaimu,Saka!!
20Mei
2011..
Saat acara perpisahan, tak terlihat
sosok Saka dipandanganku. Aku mencari dia, dari satu ruang ke ruang lain. Aku
putuskan untuk bertanya pada Vanda. Vanda adalah perempuan berjilbab yang
pernah saat itu kulihat berjalan bersama Saka, dia adalah sahabat Saka. “Kak,
Kakak tau Saka dimana? Kok dia nggak keliatan sih?” tanya ku dengan mata yang
terlihat berlinang air mata.
“Dek,
saat ini udah nggak ada Saka lagi disekolah ini. Saka udah pergi ke Australia.
Dia dapat beasiswa ke Luar Negeri. Mungkin dia nggak sempat buat berpamitan
sama kamu. Tapi, dia titip salam buat kamu. Cuma kamu yang ada dihati dia,
dek.” Seru Vanda
“Kenapa
dia tega kayak gitu, Kak ? Aku salah apa?.” Aku memeluk Vanda dengan mata yang
terus berlinang air mata.
“Saka
Cuma nggak mau liat kamu sedih sayang. Tapi dihati dia cuma ada kamu. Kalaupun
dia suka dan cinta sama cewek, ya cewek itu kamu ,dek. Doakan yang terbaik
untuk dia, semoga dia disana baik-baik dan bisa menyelesaikan kuliahnya dengan
cepat.”
***
Hari demi hari aku lewati tanpa
ada senyuman lagi dari sosok laki-laki berambut ikal. Semua telah hilang..
Aku
adalah orang yang tidak bisa mengungkapakan dan mengekspresikan sesuatu dengan
baik. Aku orang yang takut akan perubahan. Menyukai seseorang bukan berarti
harus memaksakan diri untuk menjadi kekasihnya. Menyukai seseorang tidak buruk
juga jika kita sekedar hanya sahabatnya.
Aku harap suatu saat kau akan datang lagi padaku, Untuk kembali
menyapaku dengan senyuman hangatmu..
Tuhan..
Terimkasih,
karena Kau memberi ku kesempatan untuk bisa mengenalnya bahkan memeluknya.
Tuhan..
Kan
ku jaga kisah ini hingga akhir hayat ku. Ku yakin semua pasti indah pada
waktunya.
Hanya bayang senyummu yang
mampu mengganti hadirmu saat kau tak ada disisiku.