Kamis, 04 September 2014

for someone

tajamnya sorot matamu yang kau tujukan padaku, secara tidak langsung membuat tubuhku bergetar. kau selalu ingin tahu banyak hal tentangku. sapaanmu, senyumanmu, candamu, itu yang selalu aku nanti setiap hari. entah mengapa aku begitu kecanduan terhadap senyumanmu. senyuman yang selalu membuatku aman dan nyaman. namun terkadang aku bertanya "apakah kau juga memendam rasa yang sama?". namun hingga saat ini aku tak belum menemukan jawabannya. semoga Tuhan lekas memberika jalan, dan semoga begitu adanya.

unknown

Bagaimana bisa secepat itu kamu merasa nyaman ketika bersama dia, padahal baru sejenak kamu mengenalnya. Sedangkan aku, mengapa aku terlalu sulit untuk bisa merasakan hal itu. Entah harus bagaimana agar aku bisa merasakan hal itu, sama seperti apa yang kamu rasakan. Aku ingin merasa nyaman disampingnya, tanpa ada rasa paksaan, tekanan, ataupun perasaan tidak nyaman. Aku ingin berhadapan dengannya dengan rasa yang wajar, yang dapat dicerna nalar. Bukan bimbang seperti elang yang tak tau dimana sangkar berada. Bukan rasa yang selalu menyiksaku, hingga ku tak pernah menganggapnya ada. Maafkan aku..

Senin, 30 Juni 2014

Coba Kau Baca, lalu Renungkan :)

Hai, bagaimana kabarmu? Masihkah kamu mengingatku? Iya aku, seorang perempuan yang telah kau jadikan sebagai pelampiasan, persinggahan, dan bukan untuk kau jadikan sebuah tujuan. Adakah kau tahu bagaimana perasaanku selama ini? Izinkan aku untuk menceritakannya kepadamu..
Aku mengenalmu ketika aku memasuki bangku SMA. Kamu sering berjalan berdua dengan seorang perempuan yang manis nan rupawan. Awalnya aku acuh dan tak peduli siapa kamu, hingga pada akhirnya kamu mulai menyapaku. Kamu selalu memanggil namaku ketika aku lewat didepan kelasmu. Namun aku hanya diam, aku masih malu-malu, karena pada saat itu aku adalah murid baru. Aku diam-diam mengintaimu, iya, melalui sosial media. Aku pandang wajahmu dilayar laptopku. Kamu hitam, tapi kamu manis. Kamu terlihat brutal, tapi kamu sangat ideal.  Kamu terlihat arogan, tapi ternyata menawan.
Siang itu, kamu dan kawan-kawanmu tengah menyantap makan siang di kedai siomay, letaknya tak jauh dari sekolah kita. Dan pada waktu yang sama akupun juga berada ditempat itu bersama kawanku. Aku melihat polahmu, kamu merokok dihadapanku, kamu berpolah seakan kamu itu seorang preman. Dan aku hanya terdiam. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu karena kawan-kawanku tak tahan dengan polahmu. Kamu tertawa, menertawakan aku yang begitu polosnya dihadapan kamu.
Keesokan harinya aku bertemu denganmu, ditempat yang sama. Kedai siomay. Kali ini berbeda, kamu ke tempat itu bukan dengan kawanmu tapi dengan perempuan yang selalu kamu gandeng saat berada disekolah. Saat itu hujan deras, kamu basah kuyup. Rambut kamu berantakan, tapi kamu semakin menawan. Membuat hatiku tak tertahan. Tapi sayang, kamu seperti tak mengenalku. Jangankan menyapa, memandangku saja tak kamu lakukan. Aku tahu posisi kamu saat itu. Sehingga aku pun juga pura-pura tak mengenalmu.
Aku tak pernah tau kapan aku mulai menaruh hati padamu. Semua berhembus seperti angin, tak bisa ku hentikan, tak bisa ku tahan, hanya mampu ku rasakan.
Waktu bergulir, kulalui seperti biasanya, tiada yang spesial dan menakjubkan.
Pada akhirnya aku pun menemukan seorang laki-laki yang mampu membuatku nyaman, menyayangi aku dengan tulus tanpa aku mengenakan sebuah topeng. Ya, dia menerimaku apa adanya. Dan pada saat itu kamu pun masih terus menghubungiku. Ada ribuan pertanyaan yang ada dibenakku, apa yang sebenarnya kamu inginkan dari aku, hingga kamu mengejarku dan terus menghubungi aku? Siapakah perempuan yang selalu kau gandeng, selalu kau bonceng, bukankah itu kekasihmu? Lalu untuk apa kamu terus menerorku?
Aku saat itu bahagia, memiliki kekasih yang penuh dengan kesederhanaan. Namun kebahagiaan itu pada akhirnya kandas juga, dia memilih meninggalkan aku demi perempuan yang telah bertahun-tahun ada dihatinya. Aku tak bisa menyalahkan dia, sebab dia berhak untuk memilih. Memilih dengan siapakah dia bisa bahagia. Ya mungkin selama ini aku belum bisa membuat dia seutuhnya bahagia. Lalu kemanakah harus aku buang perasaan itu? Dia bahagia telah menemukan sosok yang selama ini dia dambakan, sedangkan aku hanya sendirian, berjuang menghapus segala kenangan yang telah ku lukis bersamanya. Tak ku duga, kamu datang padaku, kamu menghapus air mataku mengubahnya menjadi sebuah pelangi yang indah. Berwarna-warni.
Namun tak ku duga pula, begitu cepatnya kamu meninggalkan aku. Dan kenyataan yang sungguh pahit, ternyata kamu telah memilih teman sekelasku. Kamu selalu setia datang menjemput dan menghampirinya. Kalian bermesraan dihadapanku. Aku selalu melihatnya sendiri, kamu pun melihat aku saat kamu bersama kekasihmu itu. Bagaimanakah perasaanmu saat itu, adakah kau tahu hatiku menjerit, hatiku menangis. Dan sadarkah kamu, aku sempat menjadi saksi pertengkaran hebat antara kamu dan laki-laki itu(mantan kekasih perempuanmu), kamu berusaha memukul laki-laki itu, menamparnya. Kamu gandeng perempuan itu, dan pergi meninggalkan laki-laki itu. Aku ingin bertanya padamu, apakah kamu akan membelaku seperti itu jika mantan kekasihku melakukan hal yang sama seperti laki-laki itu? Hah pertanyaan bodoh! Aku ini siapamu, hingga aku menuntut hal semacam itu.
Malam itu, aku tengah menatap cahaya bulan yang begitu menyilaukan. Indah memang ciptaan Tuhan. Ponselku berdering, dan ternyata itu pesan singkat darimu. Aku membacanya, aku sempat tertawa melihat pesan singkatmu. Kamu bilang kamu ingin putus dari kekasihmu, dengan alasan karena dia berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Hah alasan dari mana, jelas-jelas aku melihat kamu membela kekasihmu, kamu rela bertengkar dipinggir jalan demi membela kekasihmu, lelucon macam apa ini, hingga kamu berkata padaku seperti itu?
Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar bahwa akhirmya kamu memutuskan kekasihmu. Aku melihat dia menangis didalam kelas, dia merangkul aku dan menceritkan segalanya. Pada mlam harinya kamu bercerita padaku bahwa kamu telah memutuskan hubungan kalian. Sungguh hingga saat ini aku tak pernah tahu lelucon apa yang kamu buat.
Sejak malam itu kamu sering sekali mengirim aku chat. Hingga aku aku sering terjebak dalam chatroom denganmu. Kamu meminta untuk terus mensupport kamu, karena kamu berniat akan masuk Akadami Militer. Emoticon ‘kiss’ pun tak pernah tertinggal untuk selalu kamu kirimkan untukku. Hatiku mulai luluh, benteng perlindungan hatiku seakan telah kau patahkan sehingga kamu mampu menyentuh hatiku.Dan akhirnya aku pun jatuh hati(lagi) kepadamu. Mungkin aku terlalu cepat mengambil kesimpulan, aku berpikir bahwa kamu pun juga telah jatuh hati padaku. Namun apa, yang aku pikirkan ternyata sangat jauh berbeda dengan kenyataan. Pada awalnya aku telah mempunyai firasat bahwa kamu akan kembali pada mantanmu.  Ternyata benar, kamu telah kembali kepada mantanmu. Hatiku hancur lagi, bahkan untuk kesekian kalinya.. Tak ada satu orangpun didunia ini yang ingin hatinya hancur, bahkan dihancurkan oleh seseorang yang telah berhasil menyentuh hatinya. Dan mungkin kamu juga tahu hal itu tanpa aku menjelaskannya  kepadamu lagi.Tapi bagaimanakah jika aku sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam, sehingga aku buta karenanya?
Semakin lama aku semakin ragu, kalau yang aku rasakan adalah cinta. Sebab yang aku tahu cinta itu tak menyakitkan, malah membuat kita nyaman. Lalu kalau bukan cinta apakah yang selama ini aku rasakan?

Setahun sudah kamu pergi dariku, meninggalkanku tanpa berucap sepatah katapun.
Aku mulai membuka hatiku untuk oranglain, namun aku tak bisa sepenuhnya menyayangi mereka. Hanya kasih sayang sebatas teman saja yang bisa kuberikan kepada mereka.
Agaknya aku sedikit telah lupa tentang kehadiranmu, karena aku telah terbiasa hidup tanpa kehadiranmu.
Tanpa kuduga akhirnya kamu datang untuk menyapaku, memberi kabar kepadaku, kamu telah putus dari kekasihmu. Aku berpikir untuk apa kamu memberi tahu ku, jika nanti pada akhirnya kamu akan meninggalkan aku lagi. Hari demi hari aku lalui, kamu berusaha meyakinkan aku bahwa kamu telah benar-benar lupa dengan kekasihmu. Dan seakan kamu ingin memulai kisah baru denganku. Bodohnya aku, aku percaya dengan kata-katamu, hatiku mulai terbuka lagi untukmu. Entah kenapa segala kata-katamu mampu menghipnotis, membuat aku tak bisa menolak perasaan itu.
Aku bahagia, karena ku pikir kamu telah berubah. Kamu selalu setia memberiku kabar. Aku ingat betul, setiap hari rabu kamu selalu mengirimku pesan singkat, kamu bercerita kepadaku kalau kau sedang pesiar. Aku merasa dianggap olehmu. Namun, pada akhirnya tiada yang abadi. Apa yang kukira semua nyata ternyata hanya ilusi semata. Kau kembali meninggalkan aku saat aku benar-benar menyayangimu dan yakin bahwa kaulah pilihan hatiku. Kau meninggalkan aku dengan alasan yang sama. Iya, kamu telah menemukan sosok perempuan yang kau cari. Dan itu bukan aku. Lalu selama ini kamu anggap aku apa? Apa aku salah mengartikan semuanya? Jika aku salah..beri tahu aku hal mana yang benar? Hal mana yang kau maksud? Coba jelaskan padaku!
Aku telah mempersiapkan sebuah kaos Jogger untukmu, untuk kado ulang tahunmu. Namun ternyata semuanya sia-sia.
Harusnya kamu renungkan, bagaimana perasaanku saat itu. Kau bahagia, sedangkan aku menderita. Adilkah?

Aku telah sadar jika ternyata aku hanyalah sebuah persinggahannya, bukan tujuannya. Untuk apa aku menunggu seseorang yang tak pernah menghargai aku. Tapi sampai saat ini, aku tak pernah tau apa yang kamu rasakan, bagaimana perasaanmu terhadapku? Hingga kau terus tinggalkan aku, kau buang aku saat kau tak butuhkan aku lagi. Dimanakah hati nuranimu? Bukankah kamu anak negara? Menjaga hatiku saja kamu tak mampu, apalagi menjaga hati sang Ibu Pertiwi?Bisakah? Maaf jika aku lancang, namun ini yang kurasakan.

Satu tahun sudah kamu menghilang dari hidupku, entah kemana. Aku telah memaafkanmu, hatiku telah mekar kembali, setelah kau hancurkan menjadi puing-puing kecil. Aku tak pernah tau dimana keberadaanmu, dan aku pun tak ingin mengetahuinya, sebab hal itu akan membuka luka lama.
Sore itu, ponselku berdering, aku tak tahu siapa yang menelponku. Kamu mengaku, ternyata itu kamu. Aku tak peduli, namun kamu terus dan terus menghubungiku.Sejak saat itu kamu selalu setia memberi kabar kepadaku, kalau kamu sedang pulang kampung, kamu selalu ingin menemuiku, kamu ingin bertemu orangtuaku.
Pada akhirnya hatiku luluh kembali, Dan. Aku terhipnotis lagi oleh semua kata-katamu. Kamu mengajakku bertemu, dan aku pun mengiyakan keinginamu itu.
Kita bertemu di alun-alun kota, kamu sendiri, sedangkan aku bersama sahabatku. Saat pertama kamu melihatku, kamu tersenyum padaku, menggenggam tanganku. Tahukah kamu Dan, apa yang aku rasakan saat itu? Perasaanku melayang, aku sangat bahagia saat itu. Kalau aku bisa menghentikan waktu saat itu, aku akan lakukan hal itu. Kamu ingat, ketika kamu akan sarapan, aku yang memesannya untukmu, kamu juga tak lupa memesan segelas susu putih kesukaanmu, kamu bilang ini demi kesehatan. Kita makan bersama, bahkan jarak diantara kita kurang dari satu meter. Kamu menatap wajahku, kamu mengucapkan kalimat-kalimat yang mungkin terlihat agak gombal. Namun aku bahagia.
Apakah kamu juga ingat, ketika kamu berjanji akan mengajakku jalan-jalan di kota lunpia?
Aku masih ingat ketika kamu untuk yang pertama kalinya mengatakan bahwa kamu cinta aku. Kamu tahu bagaimana ekspresiku saat mendengar kalimat itu? Hmm seandainya kamu ada disampingku saat itu, kamu pasti akan mengira bahwa aku sudah gila. Sungguh aku sangat-sangat bahagia, Dan.
Dihari ulang tahunmu, aku ingin menjadi orang pertama kali yang mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ kepadamu. Malam itu, aku relakan waktu tidurku hilang demi kamu. Aku menelpon kamu tepat pukul  00.00 WIB, iya tepat pada waktu pergantian umurmu. Tanganku gemetar saat aku ingin menelponmu, lidahku kelu untuk mengucapkan kepadamu, hatiku berdetak tidak berirama. Akhirnya aku beranikan untuk berbicara kepadamu, namun apa yang aku dapatkan? Aku hanya mendapat balasan singkat darimu. Aku kecewa. Aku menangis. Pengorbanan untukmu telah sia-sia. Kamu bilang kamu lelah. Apa lagi yang akan kamu lakukan terhadap hatiku?
Beruntungnya aku, aku masih mempunyai sahabat-sahabat yang selalu menguatkanku disaat titik terlemahku.
Namun aku berusaha memaafkanmu, melupakan segala salahmu.
Sejak malam itu, kamu tak pernah memberi kabar kepadaku. Aku masih terus menunggu kabar dari kamu. Hingga satu bulan berlalu, kamu masih tetap belum meberi sedikit kabar kepadaku. Entah kamu kemana.
Aku terus berpikir positif tentangmu, aku berpikir kalau kamu sibuk kerja, mempersiapkan segala hal untuk lanjutan sekolahmu seperti yang kamu katakan padaku saat kita bertemu.
Hatiku mulai terbiasa tanpa kamu, mulai ikhlas melepasmu. Meski kadang aku masih teringat tentangmu. Perlu kamu tahu, menghapus, melupakan, membinasakan perasaanku kepadamu bukanlah hal yang mudah untuk ku lakukan.
Tuhan selalu memberi petunjuk kepada hamba-Nya yang selalu memohon dan bertakwa kepada-Nya.
Siang itu, tanpa sengaja aku menemukan sebuah foto siluet di akun instagramku. Aku buka. Aku terkejut, ternyata foto itu milik kamu. Rasa ingin tahu ku muncul. Kemudian aku membuka profilemu. Hatiku terasa seperti tertimpa beban yang begitu berat ketika aku melihat sebuah foto seorang perempuan di akun instgram kamu. Dan ternyata dia adik kelasku, Dan. Dunia ini sempit sekali ya, Dan. Iya sesempit pikiranku yang selalu memikirkan tentangmu, namun selalu salah.
Sadarkah kamu, aku disini setia menunggu kamu, kukira kamu sibuk bekerja demi negara, namun apa, ternyata kamu telah berpaling dariku. Lalu apakah arti penantianku selama ini? Apakah arti segala yang kamu ucap kepadaku? Apakah hanya sebuah lelucon belaka? Dan begitu bodohnya aku mempercayainya.
Sepertinya bukan hal yang pantas dilakukan, kamu meninggalkan aku dengan alasan yang sama untuk kesekian kalinya. Kamu yang salah, ataukah aku yang salah, karena aku begitu cepat mempercayaimu? Aku pun juga tak bisa menyalahkanmu, mungkin kamu tak merasa nyaman ketika kamu bersamaku, mungkin aku tak bisa kau banggakan. Lalu untuk apa kamu selalu kembali padaku? Ah iya, aku lupa, aku pelampiasanmu, aku persinggahanmu. Jadi bukan salahmu jika kamu ingin bersinggah ke hatiku, dan kembali meninggalkanku. Sekali lagi, aku persinggahanmu.
Kini kamu mengacuhkan aku, menganggap seperti aku tak pernah ada didalam hidup kamu. Kamu tengah sibuk memperjuangkan cinta yang semu. Apakah kamu yakin, dia mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu?
Dan kumohon padamu, jika suatu saat kamu terluka kembali, janganlah kembali padaku untuk menorehkan luka kembali. Hatiku bukan terbuat dari sebuah baja yang mampu menahan segala luka. Hatiku lemah. Terlalu lemah untuk kau hancurkan lagi.
Dan jika suatu saat nanti kamu sadar bahwa cintaku lah yang tulus, kumohon padamu, kenanglah aku saja, dan jangan kembali padaku.
Semoga kamu tak mempermainkan hati Ibu Pertiwi seperti kamu mempermainkan hatiku. Buatlah Ibu Pertiwi bangga terhadapmu. Bangga mempunyai anak sepertimu.
Dan selamat memperjuangkan segala cinta yang kau anggap mampu membuatmu lengkap.
Terimakasih Dan, kamu pernah melukis di kain kanvas hidupku. Hitam putih nya cinta, menjadi pelajaran berharga untukku.
Kumohon renungkan segala yang telah aku utarakan kepadamu. Semoga kau mengerti, dan tak akan mengulangi kesalahanmu.

Aku telah memaafkan segala kesalahnmu. Namun aku belum bisa melupakan segala kesalahanmu. Sebab kamu tahu, luka dihati ini beleum sembuh betul. Serpihan-serpihan hati ini belum tertata rapi kembali, masih ada yang tercecer.
Terimakasih Dan, untuk waktu yang pernah kamu berikan untukku..

Perempuan yang telah kau sakiti..


Minggu, 20 April 2014

RMY

Tatapan matanya, senyumnya.. Tanpa kusadari benih-benih cintapun tumbuh didalam hatiku.Sejujurnya aku tak pernanh menginginkan itu semua ada, karna ku tau pada akhirnya pasti aku yang akan terluka. Namun bagaimana, aku tak bisa menolak semua ini.. Aku tau bahwa ini sebuah takdir Tuhan.
Aku coba memendam rasa ini, menutup-nutupi gelora asmara ini, agar dia tak tahu, agar teman-temanku tak tahu. Bukan aku malu, aku hanya tak sanggup jika dia lalu menghindar dariku. Karna ku sadari aku hanya perempuan biasa yg tak bisa dibanggakan.. aku bukan apa-apa!
Hingga pada saatnya, sebuah tugas sekolah memaksaku utuk lebih dekat dengannya. Senang tapi terluka. Senang karna ku bisa lebih dekat dengannya.. terluka.. karna dia menjadi seorang Romeo dan aku bukan Julietnya. Aku belajar dari ibu ku untuk bisa menjadi perempuan yang tegar ketika terluka.
Tanpa aku kira, sahabatku sendiri yg menjadi Juliet.. Ingin menangis tapi ku tak mampu, ku tak ingin terlihat lemah dihadapan mereka. Bukan apa-apa, karna aku tahu sahabatku juga menyukainya.. 
Aku berusaha tegar demi tugas sekolah. Latihan. Sebuah kegiatan yang paling aku benci ketika itu.. Karna disaat itu aku melihat Romeo dan Juliet bemesraan. Semua teman-temanku mendukung Romeo dan Juliet, tanpa mereka sadari disini ada seonggok manusia tersenyum menutupi airmata dan kesedihannya. 
Sebaris doa terlontar dari mulut guruku untuk Romeo dan Juliet "Semoga kelak kalian kan berjodoh"
Aku hanya bisa tersenyum untuk menutupi semua ini.  Aku mencoba ikhlas, membiarkan sahabatku berbahagia dengan Romeo.. 
Hari demi hari aku lewati, mencoba melupakan semua perasaan ini, membuang jauh-jauh perasaan ini..
Dan masih mencoba untuk tegar. Aku ingat kata ibuku "Lebih baik menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripad dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku akan diampuni"
Romeo, Juliet semoga kau bahagia..

Selasa, 31 Desember 2013

INGAT

Gunakan syukurmu & Buang keluh kesahmu dalam menghadapi setiap cobaan..
Karena cobaan yang kamu hadapi adalah sebagai proses pemuliaan :)
#L.I.P

cinta

Bagaimana bisa kamu menyebut cinta itu menyakitkan sedangkan cinta adalah sebuah peredam emosi dan amarah. Kamu salah jika menyebut cinta itu menyakitkan, sesungguhnya yang meyakitkan itu adalah keegoisan kita sendiri. Bisakah kamu hidup tanpa cinta dari orang-orang disekitarmu? bisakah kamu bahagia tanpa hadirnya sebuah cinta? Tidak kan? Jadi, apakah kamu masih akan menyebut cinta itu menyakitkan?
Sebuah konflik tidak akan terjadi jika kita mampu meredam emosi dan keegoisan kita. Kuncinya hanya satu, yaitu cinta.
Seperti yang kita ketahui, negara Indonesia adalah negara pluralisme dengan beragamnya suku, etnis, dan ras. Namun sampai saat ini, kita ketahui bahwa konflik masih saja terjadi didalam lapisan masyarakat. Pengucilan, pengusiran terhadap kelompok tertentu, serta perebutan kekuasaan yang didasari oleh keegoisan yang tinggi dan sikap kurang mencintai. Bagaimanakah dengan nasib Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila, yang diperjuangkan mati-matian oleh pahlawan kita? Apakah kedua pedoman itu telah tergeser oleh besarnya keegoisan kita? Untuk apa kita saling menjatuhkan, saling menjauhi, saling mengucilkan satu sama lain, bukankah perbedaan itu indah? Seharusnya kita bangga dengan beragamnya etnis, suku, dan ras. Bukan malah menodai keberagman itu dengan suatu perilaku yang menyimpang dari Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Kalau bukan kita yang melestarikan keberagaman ini, lalu siapa lagi? Sadarilah negara Indonesia adalah negara yang begitu kaya.
Marilah mulai saat ini kita tanamkan benih-benih cinta didalam hati kita, mencintai sesama mahluk ciptaan Tuhan, saling mengurangi keegoisan, bukankah kita sama dimata Tuhan? Lalu untuk apa kita saling bertentang hanya untuk kehidupan yang fana  ini? Mulailah dengan menebar senyum kepada siapapun :) Kita tidak akan miskin dengan memberi senyu kepada sesama, bahkan sebaliknya kita akan kaya dengan hal itu, kaya hati. Hitam akan lebih indah jika ditemani oleh kuning, hijau, , biru, merah, putih, ungu, coklat.
Cukup sekian post saya kali ini, semoga bermanfaat :) terimakasih. GBU all

Selasa, 21 Mei 2013

sahabat.. hmm satu kata yang mungkin tak asing di telinga kalian. Sebuah kata yang sangat mudah diucapkan namun sangat sulit untuk mendapatkan dan menjaganya. Absurd sekali jika kita menginginkan sahabat yang sifatnya sesuai dengan apa yang kita harapkan. "cerdas, pandai, cerdas, kaya, gaul" haruskah kita mencari sahabat dan berpatok dengan kriteria itu?
singkat saja, sahabat adalah seseorang yang mampu menerima diri kita apa adanya. entah dalam keadaan miskin atau kaya, pandai atau bodoh, cantik atau jelek, mengerti keadaan kita, mensupport kita ketika kita terjatuh. Namun adakah sahabat yang memanipulatif sahabatnya sendiri? HAHA sangat ada!! Jangankan memanipulatif, mengolok-olok saja sudah menjadi hal yang biasa. "kamu gendut, kamu jelek, kamu kucel"
seharusnya sahabat menggandeng kita untuk berjalan disampingnya, bukan meninggalkan kita dan membiarkan kita berjalan dibelakangnya. kita sahabat men! bukan pengawal dan atasan..