Aku coba memendam rasa ini, menutup-nutupi gelora asmara ini, agar dia tak tahu, agar teman-temanku tak tahu. Bukan aku malu, aku hanya tak sanggup jika dia lalu menghindar dariku. Karna ku sadari aku hanya perempuan biasa yg tak bisa dibanggakan.. aku bukan apa-apa!
Hingga pada saatnya, sebuah tugas sekolah memaksaku utuk lebih dekat dengannya. Senang tapi terluka. Senang karna ku bisa lebih dekat dengannya.. terluka.. karna dia menjadi seorang Romeo dan aku bukan Julietnya. Aku belajar dari ibu ku untuk bisa menjadi perempuan yang tegar ketika terluka.
Tanpa aku kira, sahabatku sendiri yg menjadi Juliet.. Ingin menangis tapi ku tak mampu, ku tak ingin terlihat lemah dihadapan mereka. Bukan apa-apa, karna aku tahu sahabatku juga menyukainya..
Aku berusaha tegar demi tugas sekolah. Latihan. Sebuah kegiatan yang paling aku benci ketika itu.. Karna disaat itu aku melihat Romeo dan Juliet bemesraan. Semua teman-temanku mendukung Romeo dan Juliet, tanpa mereka sadari disini ada seonggok manusia tersenyum menutupi airmata dan kesedihannya.
Sebaris doa terlontar dari mulut guruku untuk Romeo dan Juliet "Semoga kelak kalian kan berjodoh"
Aku hanya bisa tersenyum untuk menutupi semua ini. Aku mencoba ikhlas, membiarkan sahabatku berbahagia dengan Romeo..
Hari demi hari aku lewati, mencoba melupakan semua perasaan ini, membuang jauh-jauh perasaan ini..
Dan masih mencoba untuk tegar. Aku ingat kata ibuku "Lebih baik menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripad dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku akan diampuni"
Romeo, Juliet semoga kau bahagia..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar